Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Kompas Tempo Detiknews
Google Yahoo MSN
Blue Sky Simple News Simple News R.1 Simple News R.2 Simple News R.3 Simple News R.4

About Author »

Foto Saya
Muhamad Ali Saifudin
Berbuat dan Bermanfaat
Lihat profil lengkapku »

Free File Hosting Service»

Followers

Cari Blog Ini

  • Kami Kabarkan Berita Terkini Banyuwangi,Seputar Banyuwangi, Wisata Banyuwangi, Tentang Banyuwangi and more...
  • Ingin Mengetahui Seluk dan Beluk Banyuwangi. Silahkan ketik judul dan keterangan gambar anda disini...
  • Kami Kabarkan Berita Terkini Banyuwangi,Seputar Banyuwangi, Wisata Banyuwangi, Tentang Banyuwangi and more...
  • Ingin Mengetahui Seluk dan Beluk Banyuwangi. Silahkan ketik judul dan keterangan gambar anda disini...

Jumat, 14 Mei 2010 | 19.10 | 0 Comments

Desa Wisata Mangrove di Bloksolo Bedul Alas Purwo

Perjalanan Melihat Persiapan Desa Wisata Mangrove di Bloksolo
Mesin Mogok, Perahu Nyaris Tenggelam Dihantam Ombak

Mempersiapkan Desa Wisata Mangrove ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Para guide (pemandu wisata) tidak hanya diwajibkan menguasai Bahasa Inggris. Mereka juga harus siap lahir batin menghadapi situasi genting dimainkan ombak besar.

Siang itu, Dewi Fortuna rupanya tidak berpihak kepada rombongan kami. Meski semuanya sudah siap di atas gethek, namun mesin tidak bisa berbunyi hingga 30 menit. Sebagian penumpang sempat panik. Ada juga yang sudah pasrah dan berdoa. Okto mencoba mengambil inisiatif membuat tebak-tebakan, sekadar untuk menghilangkan kepanikan. Sedangkan Pak Usman yang jadi nakhoda perahu, tampak bekerja keras berusaha menghidupkan mesin.

Sayangnya, mesin perahu tidak bisa hidup. Malah, mesin tersebut mengeluarkan asap dan percikan api. Kami pun berusaha untuk tidak panik. Setelah didiamkan selama beberapa saat, mesin dicoba untuk dihidupkan kembali. Akhirnya mesin gethek bisa hidup.

Kami semua spontan bertepuk tangan. Saya pun bisa tersenyum kembali dan langsung mengucapkan syukur.

Perahu berputar haluan, dan melanjutkan perjalanan kembali. Selama perjalanan, selain menikmati pemandangan mangrove, kami juga melihat burung Elang laut perut putih (Haliaeetus Leucogaster). Burung itu tampak santai terbang berputar-putar di atas rombongan kami.

Tidak hanya itu, kami juga menyaksikan para nelayan mencari kerang dengan peralatan yang sederhana. Mereka melambaikan tangan, ketika perahu kami melewati mereka. Ombak pun semakin besar, perahu yang kita naiki nyaris terhempas ombak. Tangan kami saling berpegangan. Karena memang tidak ada yang menggunakan pelampung dan tidak semuanya bisa berenang.

Sri, salah satu pemandu wisata langsung menangis histeris. Raut wajahnya langsung memerah. Air matanya langsung berlinang di pipi. ''Saya tidak mau lagi,'' katanya sambil menutup wajah.

Setelah semuanya normal, perahu berlabuh seperti biasanya. Dan akhirnya, kami pun sampai di pantai wisata Bedul. Setibanya di sana, kami berjalan kaki untuk sampai di desa wisata. Air pasang setinggi lutut orang dewasa, kita pun berjalan dengan sangat hati-hati. Akhirnya, kita kembali ke Dusun Bloksolo, Desa Sumberasri.

Shofa, seorang pengangguran yang lulus menjadi pemandu wisata mengaku, selama terpilih dan mengikuti training, dia mendapatkan banyak pengalaman. Sebelumnya, dia belum mengerti apa itu mangrove. Kini, dirinya bisa menguasai tentang pohon bakau dengan berpedoman buku panduan. ''Saya bersyukur bisa lulus menjadi pemandu,'' kata lelaki alumnus MAN 1 Jember ini.

Eny, seorang guru SDN di Desa Sumberasri mengatakan, dirinya memiliki segudang pengalaman baru. Dia bisa menambah pengalaman mengenai mangrove. ''Kalau bukan kita-kita, siapa lagi yang akan melestarikan tanaman mangrove ini,'' ujar lulusan D2 Universitas Negeri Jember ini.

Staf JICA, Oktovina mengatakan, program sub sektoral itu membangun lima lokasi yang disebut model pengelolaan mangrove. Selama ini, Indonesia memiliki kawasan mangrove yang sangat luas dan bagus. Namun, banyak hutan bakau yang tidak dikelola dengan baik.

Beberapa pusat bakau misalnya di Kendari (Sulawesi), Alas Purwo (Jawa ), Banjar (Kalimantan), Lampung (Sumatera) dan Bipolo (Nusa Tenggara Timur). Di setiap kawasan mangove itu memiliki kekhasan pembangunan desa wisatanya.

Oktovina menambahkan, JICA kini sedang menyiapkan sumber daya manusia (SDM) saja. Apabila desa wisata mangrove sudah siap, pemandunya juga sudah siap. Tugas kami di sini adalah membangun SDM, dengan mengajarkan berbagai hal seperti pelatihan pelatihan wisata mangrove, Bahasa Inggris, dan bagaimana menjadi pemandu. ''Karena selama ini, mereka masih belum berpengalaman. Target kami untuk menyiapkan SDM selama enam bulan,'' pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sumberasri, Suyatno mengatakan, berbagai persiapan telah dilakukan untuk desa wisata mangrove ini. Masalah anggaran termasuk yang paling penting. Anggaran untuk jalan desa disiapkan sebesar Rp 1,2 miliar. Ada juga anggaran untuk kolam pancing dan lainnya sebesar Rp 500 juta. ''Saat ini masih proses persiapan saja. Kami masih konsentrasi di pengembangan SDM untuk menjadi pemandu,'' pungkasnya. (bay/habis)Radar Banyuwangi
Sumber: http://jawapos.com/Radar Banyuwangi

Kunjungi Juga http://muhamadalisaifudin.blogspot.com
Read More... - Desa Wisata Mangrove di Bloksolo Bedul Alas Purwo

Kaya Motif, Batik Banyuwangi Belum Dipatenkan

BANYUWANGI-Tak banyak warga yang tahu, bahwa sejatinya Banyuwangi merupakan salah satu daerah asal batik di Nusantara. Banyak motif asli batik khas Bumi Blambangan. Namun hingga sekarang, baru 21 jenis motif batik asli Banyuwangi yang diakui secara nasional.

Tren penggunaan motif batik pada pakaian mulai meningkat akhir-akhir. Gairah perkembangan bisnis batik kembali terasa menggeliat di Banyuwangi.

Dulunya, baju batik lebih banyak dikenakan pada acara resmi. Misalnya acara resepsi atau kegiatan resmi lainnya. Namun saat ini, batik sudah banyak dipakai untuk tren baju sehari-hari. Mulai seragam sekolah dan baju kerja karyawan perkantoran, motif pelengkap kerudung, baju casual hingga busana muslim untuk acara santai.

Meski sudah menjadi pakaian sehari-hari, warga Kota Gandrung banyak yang tidak tahu bahwa batik sebenarnya sudah lama berkembang di Banyuwangi. Bahkan, batik sudah ada sejak zaman kerajaan Blambangan. "Batik Banyuwangi itu memiliki khas tersendiri," ujar HM Suyadi, salah satu pengusaha batik Banyuwangi.

Bos galeri batik Virdes di Kecamatan Cluring itu mengungkapkan, Banyuwangi sebenarnya termasuk daerah asal batik. Karena minimnya perajin, akhirnya batik Banyuwangi kalau jauh dengan daerah lain di Jawa Tengah dan Jogjakarta. "Biasanya kalau bicara batik, bayangan kita itu pasti langsung ke Jogja, Solo, atau Pekalongan," katanya.

Sebagai salah satu daerah asal batik, Banyuwangi memiliki banyak motif. Di museum batik, Banyuwangi tercatat punya 21 jenis motif batik yang jadi ciri khas Banyuwangi. "Sebenarnya masih banyak, tapi yang diakui 21 motif batik itu," ujarnya.

Di antara 21 motif batik yang kini banyak digandrungi warga Blambangan, di antaranya ada motif gajah uling, paras gempal, kangkung setingkes, sembruk cacing, gedegan, ukel, blarak semplah, dan moto pitik. "Nama motif ini khas Banyuwangi, ini menunjukkan batik asli Banyuwangi" jelasnya.

Selama ini, kata Suyadi, ada anggapan yang salah kalau gajah oling itu batik khas Banyuwangi. Padahal yang benar, gajah uling hanya salah satu dari sekian banyak nama motif batik khas Banyuwangi. "Semua motif dari batik Banyuwangi itu diciptakan oleh nenek moyang Banyuwangi sendiri," paparnya.

Dalam penciptaannya, motif batik Banyuwangi ternyata banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Gajah uling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa hewan seperti belut yang ukurannya cukup besar. "Motif sembruk cacing juga kayak cacing, dan motif gedegan juga kayak gedeg (anyaman bambu)," bebernya.

Bagi Suyadi, penciptaan motif batik Banyuwangi merupakan bentuk karya seni yang cukup tinggi. Semua motif itu diambilkan dari kekayaan alam Banyuwangi yang beraneka ragam. "Jadi motif batik ini warisan nenek moyang itu bernilai seni yang harus dipertahankan," cetusnya.

Motif batik seperti di Banyuwangi ini, tidak akan bisa ditemukan di daerah lain. Karena batik dengan motif ini, sudah menjadi identitas dari batik khas Banyuwangi. "Untuk menghindari pembajakan, pemerintah harusnya mempatenkan motif batik Banyuwangi ini," harapnya.(abi/bay)Radar Banyuwangi
Sumber: http://www.jawapos.com/Radar Banyuwangi
Info Lengkap http://muhamadalisaifudin.blogspot.com
Read More... - Kaya Motif, Batik Banyuwangi Belum Dipatenkan

Duren Merah Langka dari Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi

Rasanya Lebih Legit, Seperti Rasa Duren Dengan Susu

Buah durian berwarna kuning memang sudah biasa. Tetapi ada durian merah atau yang disebut durian Siwayut di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Durian jenis ini juga ada di Kecamatan Songgon. Apa istimewanya?

ADA sebuah gang yang bernama Duren Abang di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Nama gang itu memang unik, karena asal nama gang itu berasal dari duren abang (durian merah). Di ujung gang itu terdapat rumah Serad, 70, si pemilik pohon durian langka yang biasa disebut durian siwayut itu.

Menurut Serad, asal kata siwayut tersebut berasal dari zaman nenek moyangnya. Dalam bahasa Using, siwayut artinya adalah warisan buyut atau warisan nenek moyang. Sedangkan warga sekitar menyebut, asal usul nama gang tersebut berasal dari sebuah pohon durian yang menghasilkan buah durian merah. Pohon itu hingga sekarang masih berada di pekarangan belakang rumah Serad.

Diameter pohon durian merah itu berukuran besar. Ukurannya hampir sama dengan pelukan tiga orang dewasa ini. Tinggi pohon itu sekitar 50 meter. Berdasarkan cerita warga sekitar, pohon ini merupakan wit babon (pohon induk) dari pohon-pohon durian merah yang ada di Banyuwangi.

Menurut Serad, usia pohon ini sudah mencapai sekitar 310 tahun. Kapan awal kehidupannya, Serad mengaku tidak tahu menahu. Yang jelas, pohon itu telah ada sejak dia lahir. Bahkan, sudah ada sejak masa neneknya masih kecil. "Pohon itu warisan turun temurun. Sehingga saya dan keturunan kami tidak boleh menebangnya," ujarnya.

Serad mengatakan, pohon itu merupakan pohon induk dari pohon-pohon durian merah yang sekarang ini banyak terdapat di Banyuwangi. Perbedaannya terlihat pada warna dan rasa buahnya. Buah durian merah yang dihasilkan oleh pohon induk tersebut, warnanya merah tua, sementara dari pohon anakan, yaitu pohon hasil peranakan pohon induk tersebut, warna daging buahnya adalah merah muda. Rasanya pun berbeda.

Serad mengatakan, rasa durian siwayut dari pohon induk lebih legit dan lebih kental. Rasanya seperti durian bercampur susu. Sementara rasa durian siwayut dari pohon anakan tidak selegit yang asli. "Kandungan alkoholnya pun berbeda. Durian dari pohon induk, kadar alkoholnya lebih terasa," tutur bapak dua anak tersebut.

Meski begitu, ternyata durian siwayut memiliki banyak manfaat. Hal ini berdasarkan pengakuan Serad sendiri serta beberapa warga yang memang pernah merasakan khasiat durian ini. "Khasiat utamanya bisa menambah vitalitas kaum lelaki," ujar Maksum, salah seorang tetangga.

Serad mengatakan, karena masih terbatas keberadaannya, durian yang satu ini selalu menjadi rebutan. Tidak hanya masyarakat Banyuwangi, masyarakat dari luar kota pun sering berkunjung ke rumahnya dengan tujuan untuk memesan durian tersebut. Bahkan, ada pelanggan tetapnya yang berasal dari Kalimantan, yang secara rutin menyambangi rumahnya setiap tahun untuk merasakan durian siwayut tersebut.

Gara-gara duren siwayut miliknya, Serad juga sampai mendapat kunjungan oleh Imam Utomo, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur. Tidak hanya itu, pengalaman menarik juga muncul karena durian tersebut. Karena penasaran dengan rasa dan penampilan durian siwayut ini, istri Purnomo Sidiq, mantan Bupati Banyuwangi, sampai menunggui dengan sabar proses jatuhnya durian tersebut dari pohonnya. Namun, meski sudah ditunggu, buah durian tersebut tidak jatuh-jatuh. Sehingga membuat istri Purnomo tertidur di gazebo yang memang disediakan Serad di dekat pohon duriannya. "Padahal menunggunya dari pagi hingga sore, namun tidak ada satu pun buah yang jatuh," ujar suami Saudah ini.

Serad mengatakan, sekali berbuah, pohon induk siwayut bisa menghasilkan sekitar 300 buah. Hanya, waktu berbuahnya tidak menentu. Tidak seperti pohon durian yang lain, pohon durian ini justru memiliki jadwal yang tidak tetap. Tapi bisa dipastikan, pohon ini hanya bisa berbuah satu kali dalam setahun. Uniknya, buah durian siwayut ini berukuran sedang, dan cenderung seragam. "Buahnya tidak pernah lebih besar dari ukuran normalnya," tuturnya.

Perbedaan durian yang satu ini dengan durian lain, adalah dari baunya. Karena baunya sangat kuat, sehingga bisa bertahan hingga beberapa hari meski duriannya sudah dipindahkan.

Meski dibilang langka, Serad mengaku tidak pernah mematok harga khusus untuk duren miliknya ini. Memang, selama ini duren serupa dijual seharga Rp 50 ribu. Namun, dia tidak mengaku tergiur dengan harga mahal tersebut. Saat ada orang yang membeli duriannya, dia rela dibayar sesuai dengan kemampuan si pembeli. Makanya, dia juga pernah hanya dibayar Rp 10 ribu untuk satu buah durian langka tersebut. Alasannya sangat sederhana, karena dengan harga murah, siapa pun bisa menikmati durian tersebut, dan tidak hanya kaum berduit. "Mosok bongso lan warga isun dewek heng biso mangan duren asli daerah kene? (Masak bangsa dan warga Kemiren sendiri malah tidak bisa menikmati durian asli daerah mereka sendiri?)," ujarnya.

Karena waktu berbuahnya yang tidak menentu, banyak orang yang ingin memesan terlebih dahulu dengan memberi uang muka, bahkan sebelum pohon tersebut berbuah. Namun Serad tidak pernah menyetujuinya. Karena berdasarkan pengalamannya, saat ada orang yang sudah memesan dan membayar uang muka terlebih dahulu, maka buahnya justru tidak mau jatuh dari pohon. Hal itu sudah terbukti beberapa kali. Sehingga, apabila ada orang yang memesan, dia akan menolaknya, dan menganjurkan orang tersebut datang ke rumahnya saat duren siwayut miliknya sudah mulai panen. "Kalau berjodoh, pasti akan bisa menikmati duren merah tersebut," tandasnya.(bay)
Sumber: http://www.jawapos.co.id/rada
Read More... - Duren Merah Langka dari Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi

Wisata Bedul Segoro Anakan

Wisata Bedul; Dulu dan Kini

Anda ingin menjadi Petualang Pemula? Jawabnya ya ke Wana Wisata Bedul. Tapi bari para pelancong atawa Wisatawan yang pernah ke Wisata Bedul mungkin sedikit kaget atau shock karena Wisata Bedul yang Dulu dan Kini sudah berubah 180 derajat atau lebih dari 360 derajat. Karena Saat ini Wisata Bedul menduduki ranking pertama kunjungan Wisata di Wilayah Banyuwangi *) menurut ana dan lisa dari penulis sih.

Coba bandingkan Foto Wisata Bedul ketika Penulis datang ke Wisata Bedul pada 2 Mei 2007 dengan Foto Wisata Bedul saat Penulis berkunjung pada Minggu 9 Mei 2010 begitu sangat berbeda. Salut buat pengelola Eko Wisata Bedul.Semoga tetap kompak menjaga dan mengelola serta melestarikan Eko Wisata Bedul sebgai salah satu ikon Wisata Alam Hutan serta Bahari di Banyuwangi.
Read More... - Wisata Bedul Segoro Anakan

Minggu, 24 Januari 2010 | 20.27 | 0 Comments

Bukan untuk Guru Sertifikasi

BANYUWANGI-Kalangan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) ternyata sudah lama mendengar adanya tambahan penghasilan sebesar Rp 250 ribu per bulan dari APBN. Selama ini, mereka menunggu realisasi janji yang disampaikan langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.

Ketua PGRI Banyuwangi, Husin Matamin mengatakan, tambahan penghasilan itu diketahui guru dari informasi yang disampaikan presiden melalui beberapa media massa. Adanya tambahan penghasilan itu disambut suka-cita kalangan guru PNS. Mereka berharap agar dana tersebut segera cair.

Menurut Husin, tambahan penghasilan dari dana APBN itu tidak diterima oleh semua guru PNS. Yang bisa mendapatkan tambahan penghasilan hanya guru PNS yang belum mengikuti sertifikasi atau guru belum lulus sertifikasi. Guru PNS yang sudah lulus sertifikasi, tidak memiliki hak untuk mendapatkan dana tersebut. "Besarnya Rp 250 ribu setiap bulan atau Rp 3 juta setahun," jelasnya.

Sejatinya, dana tersebut sudah dicairkan sejak bulan Januari 2009. Namun, hingga saat ini, semua guru di Banyuwangi belum ada yang menerima tambahan penghasilan tersebut.

Beberapa bulan lalu, PGRI sudah melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dispendikpora) untuk membahas dana tersebut. Saat itu, Dispendikpora berjanji untuk menyerahkan anggaran tersebut pada bulan Desember dengan cara dirapel mulai Januari 2009.

Namun, hingga Desember 2009 lalu, dana senilai Rp 23 miliar itu belum cair juga. Penyebabnya, karena persoalan teknis yang belum selesai. "Keterangan Dirjen Keuangan Departemen Keuangan RI, uang untuk tambahan penghasilan guru PNS sudah ada dan tinggal dicairkan," ujar Husin.

Lantaran tidak bisa cair pada tahun 2009, maka pihaknya melakukan koordinasi lagi dengan Dispendikpora. Informasi dari Dispendikpora kepada PGRI, dana tersebut akan cair sekitar bulan Januari hingga Februari 2010.

Meski cair tahun 2010, dananya berasal dari anggaran tahun 2009 yang belum dicairkan. "Mudah-mudahan dana itu segera cair untuk menambah kesejahteraan guru," harap Siswaji, Sekretaris PGRI Banyuwangi.

Menurut Siswaji, anggaran tambahan penghasilan itu harus sampai kepada guru yang belum memiliki sertifikasi. Sebab, pencairan dana itu sudah memiliki payung hukum yang jelas. "Itu salah satu hak guru yang diberikan negara. Jangan sampai hak itu nggak sampai," tegasnya.

Sementara itu, mantan Ketua Komisi D DPRD Banyuwangi, Wahyudi, mengaku tidak percaya seratus persen kalau dana tersebut belum cair dari kas negara. Logikanya, kata Wahyudi, tidak mungkin Menteri Keuangan menerbitkan Permenkeu kalau dananya belum ada. Apalagi, dalam Permenkeu itu jelas disebutkan bahwa aturan dan kewajiban untuk mengembalikan ke kas negara kalau dana itu tidak dilaksanakan. ''Karena itu, tidak mungkin pemerintah pusat membikin aturan yang ketat seperti itu kalau dana tidak ada,'' ujarnya.

Wahyudi menambahkan, dana tambahan penghasilan guru satu paket dengan jatah DAU. Sementara itu, jumlah DAU yang diserahkan kepada daerah sudah diketahui sejak bulan Agustus setiap tahun. "Jadi, tidak mungkin dana itu tidak cair. Kalau tidak cair, berarti DAU 2009 juga nggak cair," katanya.

Menurut Wahyudi, tidak cairnya tambahan penghasilan untuk guru PNS itu lebih disebabkan karena persoalan kepedulian. Jika memiliki kepedulian terhadap nasib dan kesejahteraan guru, dana itu sudah pasti cair. Namun, karena kepeduliannya rendah, maka program pemerintah pusat itu dibiarkan tidak ada yang mengurus. "Selama ini, kepedulian pemerintah daerah pada kesejahteraan guru hanya berhenti di kata-kata saja," tambahnya. (afi/bay) Radar Banyuwangi
Sumber: http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=139307
Read More... - Bukan untuk Guru Sertifikasi

Minggu, 20 Desember 2009 | 20.33 | 0 Comments

Pawai Budaya Banyuwangi Sepi Penonton

BANYUWANGI - Pawai Budaya memang bisa menjadi tontonan yang menarik. Tetapi, bagaimana jika pawai budaya seperti ini digelar di kota kecil, bahkan sempat melitas di tengah sawah? Sejumlah peserta pawai Pelangi Budaya yang diselenggarakan di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi mengeluh dengan sumpah serapah. Disamping pawai itu sepi penonton, jalur yang dilalui pun terasa panjang. Meski sebenarnya hanya sepanjang 3,5 kilometer.

"Kalau di kota, 3,5 kilometer terasa pendek, karena penontonnya banyak. Kalau ini, sudah dikampung, masih melalui jalur tengah sawah lagi," keluh Wiwied, salah seorang peserta pawai itu.

Pantauan Wartawan Radar Banyuwangi, di sepanjang jalan Desa Blimbingsari menuju Lapter, ada tujuh tenda yang mempertontonkan tradisi Banyuwangi. Ada angklung caruk, angkluk paglak, dan musik tradisional lainnya.

Memasuki pintu gerbang lapter, seluruh warga harus memarkir kendaraannya di luar areal lapter. Dan mereka harus berjalan kaki menuju lokasi start.

Sementara itu, penonton ada yang memilih berteduh di tenda. Ada juga yang berteduh di bagasi bus pariwisata, hingga ada warga yang membawa payung.

Saking panasnya, petugas beberapa kali menyiram sekitar tenda di halaman terminal penumpang lapter sebelum acara dimulai. Setelah peserta pawai menunggu cukup lama, tepat pukul 13.00 akhirnya pawai dimulai. Pembukaan pawai dimeriahkan oleh penampilan sendratari Sayu Wiwit.

Ketut Partama, Ketua Kontingen dari Kabupaten Jembrana mengeluhkan jauhnya jarak pawai budaya kali ini. Menurutnya, jarak yang harus ditempuh oleh seluruh peserta pawai sangat jauh. Dari start hingga finishm jaraknya sekitar 3,5 kilometer. ''Kasihan para peserta, sudah panas jalannya jauh sekali,'' keluhnya.

Ketut menambahkan, tidak hanya peserta yang merasa kelelahan. Para penata riasnya juga lelah sekali. Karena, penata rias harus mengikuti peserta bila sewaktu - waktu make up peserta luntur di jalan. ''Kalau di Jembrana, jarak tempuh pawai itu biasanya hanya 1,5 kilometer,'' katanya.

Beberapa peserta pawai juga mengeluhkan kondisi tersebut. Yuni, salah satu penari mengatakan, jarak yang ditempuh dalam pawai tersebut sangat jauh. ''Kalau di kota, meski cukup jauh tidak terasa, karena banyak yang menonton. Kalau di sini terasa melelahkan. Apalagi pas di tengah sawah tidak ada penontonnya,'' katanya ditemui di garis finish.

Peserta dari Kabupaten Kediri, Ningrum justru mengaku tidak ada masalah dengan pawai di dekat Lapter. ''Tujuannya jelas, untuk mempromosikan Lapter yang dimiliki Banyuwangi kepada masyarakat,'' katanya Ningrum.

Selama pawai, banyak peserta yang duduk di tengah jalan karena sepi penonton. Saking panasnya, mereka berteduh di selendang teman - temannya. Setibanya di garis di lapangan Watukebo, kondisinya sangat kontras. Lapangan tersebut penuh sesak dengan penonton. Tidak hanya penonton dari Kecamatan Rogojampi dan sekitarnya. Para penonton dari Kecamatan Banyuwangi juga terkonsentrasi di lokasi finish tersebut.

Vitha, penonton asal Kecamatan Banyuwangi menyesalkan adanya pawai yang ada di lapter Blimbingsari. ''Awalnya sudah tidak mau melihat, tapi anak saya merengek minta nonton pawai. Ya berangkat saja padahal jauh,'' katanya.

Ditemui terpisah, Bupati Ratna Ani Lestari mengatakan bahwa pawai Pelangi Budaya ini sekaligus untuk deklarasi nama lapter. Hal itu sudah ada dalam Peraturan Bupati nomor 61 tahun 2009 tentang nama bandar udara di Banyuwangi. Dalam pasal 2 disebutkan penetapan bandar udara dengan nama Sayuwiwit. ''Nama merupakan persyaratan Sertifikasi Operasional Bandara (SOP),'' katanya.

Bupati Ratna mengatakan, puncak acara yang diselenggarakan di lapter ini tidak menganggu aktivitas yang ada di lapter. Karena podium dan lainnya berada di luar areal runway. ''Tidak benar, kalau saya ditegur Departemen Perhubungan. Kalau di areal runway, memang tidak boleh,'' katanya.

Sementara itu, jalur Desa Rogojampi-Desa Blimbingsari macet selama 3,5 jam kemarin sore. Kemacetan hingga membuat kendaraan roda dua dan mobil menumpuk saat digelar pawai Harjaba.

Pusat kemacetan berada di jalan persimpangan antara Desa Watukebo dan Desa Blimbingsari. Antrean kendaraan yang macet, panjangnya hingga mencapai satu kilometer. Petugas kepolisian dan petugas Dinas Perhubungan tampak kewalahan mengatasi kendaraan yang ingin saling mendahului.

Kemacetan mulai terjadi sekitar pukul 14.30. Akhirnya, jalan berangsur normal sekitar pukul 17.00. Jalan persimpangan yang menjadi pertemuan dari tiga jalur ini, sama-sama dipadati oleh kendaraan roda dua dan empat. "Tolong jalannya gantian, biar bisa jalan," kata Bripka Suprapto, petugas Polsek Cluring yang ikut membantu mengatur arus lalu lintas.

Meski petugas sudah mengingatkan agar kendaraan bisa bergantian, tapi rupanya para pengendara motor dan mobil tidak mau mendengar. Mereka terus merangsek maju hingga akhirnya sama-sama tidak bisa jalan. "Waduh, kita nggak bisa lihat acaranya dong," kata beberapa warga yang datang dari arah Desa Rogojampi.

Sekadar diketahui, tiga jalur bertemu di jalan persimpangan pohon beringi Desa Watukebo. Dari arah barat merupakan jalur araah Desa Rogojampi. Dari arah utara dari Desa Blimbingsari, sedang dari arah selatan dari Desa Watukebo. Ketiga jalur ini sama-sama dipadati kendaraan dan menumpuk di pertigaan pohon beringin.

Dari arah Rogojampi, sebagian besar warga yang ingin melihat atau akan menjemput anaknya yang ikut acara pawai budaya. Sedang dari arah Blimbingsari, rombongan peserta pawai budaya dan keluarganya yang banyak naik motor dan mobil.

Sedang kendaraan roda dua dan empat yang datang dari arah Desa Watukebo, kebanyakan rombongan yang baru ikut acara di Lapter Blimbingsari. Mereka ingin lewat jalur alternatif, tapi malah terjebak dalam kemacetan.(lla/aj/jpnn)Radar Banyuwangi
Sumber: http://www.jpnn.com/berita.detail-55334
Info Lengkap http://muhamadalisaifudin.blogspot.com
Read More... - Pawai Budaya Banyuwangi Sepi Penonton

Rabu, 16 Desember 2009 | 20.36 | 0 Comments

Budayawan Protes Pawai Budaya Banyuwangi

BANYUWANGI-Rencana Pemkab menggelar karnaval budaya di jalan sekitar lapangan terbang (lapter) Sabtu mendatang (19/12) terus mengundang protes. Setelah beberapa penata rias keberatan dengan pemilihan lokasi karnaval di pedesaan itu, kali ini giliran budayawan yang protes.

Budayawan Andang Cy. termasuk yang paling keras menolak rencana karnaval di jalan sekitar lapter.''Saya orang yang pertama menolak kalau puncak Harjaba diselenggarakan di lapter,'' tegasnya kemarin (15/12).

Meski begitu, Andang mengakui bahwa dirinya tidak bisa berbuat banyak dengan penetapan lokasi pawai budaya tersebut. Meski dirinya keberatan dengan adanya keputusan tersebut, bagaimana pun juga acara tersebut tetap diselenggarakan dan sudah dijadwalkan dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba). ''Saya pernah melakukan survei ke sekitar kawasan lapter pada siang hari. Di sana, cuacanya sangat panas. Saya membayangkan bagaimana nanti kalau anak-anak kecil ikut nonton pawai. Apakah ada yang nonton apabila digelar di sana?'' ujarnya.

Menurut Andang, kegiatan di sekitar kawasan lapter itu terkesan dipaksakan. Selain itu, hal itu sudah mengubah tatanan yang sudah ada setiap tahun, yakni puncak peringatan Harjaba selalu diselenggarakan di Kota Banyuwangi. Resepsi Harjaba, biasanya selalu diselenggarakan di Pendapa Sabha Swagata Blambangan.

Secara terpisah, seniman dan budayawan H. Sutejo menilai, pelaksanaan pawai budaya di sekitar lapter Blimbingsari itu kurang tepat. Selain lokasinya yang panas, kawasan tersebut tidak pas untuk pelaksanaan pawai budaya. ''Kalaupun diselenggarakan di ibukota kecamatannya, yakni di Rogojampi, saya pikir tidak masalah. Lha, kok ini karnaval di lapter,'' ujarnya.

Sutejo mengakui, sebelumnya pernah ada pertemuan pertama yang membahas masalah pawai budaya. Dalam pertemuan tersebut memang ada perdebatan. Namun, akhirnya sudah menjadi keputusan Bupati bahwa pawai harus dilaksanakan di lapter. ''Sehingga, kami tidak bisa berbuat apa-apa,'' ujarnya.

Sutejo menambahkan, sekitar lapter cukup panas. Oleh karena itu, akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan tamu dari kabupaten lain. Para tamu akan diistirahatkan di mana kalau lokasinya panas seperti itu. Namun, akhirnya hal itu sudah menjadi keputusan dan pelaksanaannya ditetapkan tanggal 19 Desember 2009 mendatang.

Sementara itu, Bupati Ratna Ani Lestari menegaskan bahwa peringatan Harjaba memang dilaksanakan di lapter. Tujuannya, untuk pengenalan lapter kepada masyarakat Banyuwangi dan kepada maskapai penerbangan. ''Selama ini, sudah ada BIFA dan nanti akan ada maskapai Merpati yang kami undang,'' katanya di sela-sela peringatan HUT Dharma Wanita Persatuan kemarin.

Bupati Ratna menambahkan, Harjaba merupakan momen yang pas untuk ritual deklarasi nama bandara. Sebab, hal itu terkait nama salah satu pahlawan Banyuwangi. ''Hal ini dilakukan karena terkait dengan sertifikasi bandara. Kalau Perbup-nya sudah, tinggal Perda-nya saja. Kalau menunggu 2010 terlalu lama,'' jelasnya.

Ketua I Panitia Peringatan Harjaba, Hadi Sucipto mengatakan, dengan adanya nama lapter, sertifikasi bandara bisa langsung dilakukan. Kalaupun nanti ada perubahan nama bandara pada Perda, tidak menjadi masalah. ''Perda memang harus dibahas dengan DPRD,'' jelasnya.

Hadi Sucipto menambahkan, puncak peringatan Harjaba tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Puncak acara Harjaba tahun ini digunakan untuk mendeklarasikan nama lapter. Nanti sudah disiapkan angkutan untuk masyarakat Banyuwangi. ''Kami mohon maaf kepada seluruh masyarakat Kota Banyuwangi apabila tidak bisa menyaksikan Pawai Pelangi Budaya yang biasa diselenggarakan di pusat kota,'' katanya.

Menurut Sucipto, peringatan Harjaba bisa dilakukan di mana saja. Sebab, wilayah Banyuwangi luas. Jadwalnya, mulai siang sampai sore ada pawai pelangi budaya. Memasuki Magrib, dilanjutkan ngebangi bandara dengan salat Magrib dan adzan yang akan dilakukan oleh tujuh orang. Setelah itu, dilanjutkan dengan doa dan selamatan. ''Pukul 19.00 dilanjutkan dengan resepsi di lapter,'' katanya.

Sucipto menambahkan, ada tiga alternatif rute pawai Harjaba. Alternatif pertama, dimulai dari lapangan Desa Watukebo menuju lapter Blimbingsari dengan jarak tempuh tiga kilometer. Alternatif kedua, pawai dimulai dari lapter ke lapangan Desa Watukebo. Alternatif ketiga, pawai dimulai dari Desa Blimbingsari menuju lapter dengan jarak hanya satu kilometer. ''Penentuan rute akan diputuskan besok pagi (hari ini, Red),'' cetusnya.

Sucipto mengaku optimistis bahwa pawai budaya di lapter itu akan banyak disaksikan penonton. Untuk pengamanan, kata dia, sudah disiapkan semaksimal mungkin. Sawah masyarakat yang ada di sekitar lapter dijamin tidak rusak, karena nanti sudah ada pagar pembatas. (lla/bay)Radar Banyuwangi
Sumber: http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=132312
Info Lengkap http://muhamadalisaifudin.blogspot.com
Read More... - Budayawan Protes Pawai Budaya Banyuwangi
 

Poll

Poll

Pengikut

Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.